Kamis, 08 Mei 2008

Ahmadiyah dan Realita Sosial Politik Indonesia

Ahmadiyah, begitu mendengar kata Ahmadiyah, mungkin langsung terlintas dibenak kita beberapa peristiwa kerusuhan yang terjadi diberbagai tempat di tanah air akhir-akhir ini, yang memang pemberitaannya dimedia massa sedang sangat inn (baca: gencar), hampir seluruh media memberitakan aliran keagamaan yang sementara ini dianggap sesat itu.

Bahkan hampir dapat dipastikan, setiap kita menyaksikan siaran berita di televisi atau membaca Koran, sangat mudah dijumpai pemberitaan tentang ahmadiyah, sebuah aliran yang sebenarnya sudah bercokol cukup lama dibumi nusantara.

Pun demikian, para penganut aliran yang asal usulnya dari negeri di Asia kecil itu tetap bersiteguh memegang keyakinannya.

Walaupun disana-sini mendapat hujatan dan hardikan dari berbagai pihak, dan bahkan Majlis Ulama Indonesia sendiri telah menyudutkannya dengan fatwa "saktinya" yang justeru seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan arif dan bijaksana.

Sehingga perbuatan-perbuatan anarkis yang dilakukan oleh segolongan orang yang mengaku muslim dapat dicegah, karena terlepas dari apakah yang dilakukan golongan ahmadiyah ini melukai hati umat muslim atau tidak tetapi yang jelas perbuatan anarkis hanya akan merusak citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin (baca: pemberi rahmat bagi sekalian alam) baik, muslim atau non muslim, baik orang jahat maupun orang baik.

Apabila kita mau menilik lebih jauh tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada saat ini, mungkin kita dapat menghemat atau setidaknya mengurangi energi kita, agar tidak terbuang sia-sia dengan aksi-aksi yang sebenarnya kita sendiri masih bingung karena tidak mengetahui duduk persoalannya secara pasti dan hanya melakukan tindakan heroisme brutal yang sangat mungkin hasil provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Dapat kita lihat dengan jelas secara bersama-sama, hampir disetiap waktu menjelang pemilu (baca: pemilihan umum) khususnya pemilihan presiden Republik ini, selalu bermunculan isu-isu yang mengantarkan masyarakat bangsa kita pada situasi panas, dan labil.

Juga perlu diingat kembali bahwa golongan ahmadiyah ini, atau golongan yang mengaku bagian dari muslim tetapi mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi setelah kenabian Muhammad SAW yang pada prinsipnya sebagai Nabi Pamungkas ( Baca: Nabi paling akhir) menurut al Qur an sudah lama sekali bercokol dibumi pertiwi, tentunya dengan segala kegiatan ritualnya. Karena tidak mungkin orang yang benar-benar mengimani sesuatu tetapi tidak melakukan apa yang diimaninya itu.

Menjadi wajar bila kita secara berbarengan bertanya pada diri kita sendiri mengapa isu ahmadiyah baru booming dan meledak pada saat pelaksanaan pesta demokrasi dan pemilu semakin dekat? Kenapa tidak sejak dari dulu saja?

Kalau kita memang benar-benar mau membumi hanguskan aliran ini tentunya kita sudah melakukannya sejak dari dulu, sejak komunitas terkecil yang menjadi tempat pertama kali golongan ini tinggal dan berkoloni, karena sudah pasti orang-orang muslim yang paling merasa tersakiti hatinya adalah orang-orang yang paling dekat lokasinya dengan komunitas ahmadiyah ini.

Apakah Islam terlalu lemah pada saat itu? Tentunya tidak, karena bila kita teliti dengan cermat, bahkan pada akhir-akhir ini telah terjadi penyusutan ummat Islam di Indonesia. Berarti umat Islam pada waktu itu cukup bahkan sangat kuat untuk sekedar memberangus ahmadiyah dari Indonesia, kenapa tidak dilakukan?

Maka sangat mungkin, apa yang telah kita lakukan(baca: menabur benci) kepada ahmadiyah ini merupakan hasil dari rekayasa social para politisi atas dasar kepentingan politiknya atau rekayasa dari orang-orang yang tidak suka dengan Islam baik dalam skala nasional maupun internasional.

Sehingga setelah ummat islam tercerai berai karena permasalahan ini, umat islam yang sejatinya penduduk paling banyak di NKRI dan paling bertanggungjawab terhadap kehidupan sosialnya sebagai khalifatul ardl terbengkelai.

Sayogyanya kita sebagai hamba Tuhan yang Maha Tahu atas semua yang terjadi mengembalikan semua kepada-Nya, dengan memohon petunjuknya kita bersama-sama merenungkan kembali apa yang telah kita perbuat, khususnya pada kasus ahmadiyah ini, sehingga apa pun yang kita lakukan benar-benar dari hati Nurani paling dalam dan atas petunjuk Tuhan serta bukan dari buah provokasi orang-orang yang ingin menghancurkan islam dengan cara paling halus.


Heri Wibowo

Tidak ada komentar: