Kamis, 15 Mei 2008
Minggu, 11 Mei 2008
Wanita Berpolitik Harus Siap Mental
BERPOLITIK kegiatan yang dulu sempat dijauhi kaum perempuan karena dianggap sebagai "lahan" laki-laki. Juga karena perasaan wanita yang halus memandangnya sebagai suatu kegiatan yang "kotor" karena terkadang dilumuri oleh upaya yang dinilai "curang" demi mencapai satu tujuan.
Alasan lain yang tampaknya lebih memengaruhi mengapa kaum ibu ini tidak berpolitik praktis, tidak lain karena budaya paternalistik yang masih kental melingkupi kehidupan di bumi ini. Akibatnya, mereka yang maju ke kancah politik sebagian besar kaum pria. Dan perempuannya? Bisa dibilang dengan jari.
Ada pula yang mengartikan dari sisi ajaran agama (Islam) yang meminta kaum perempuan hendaknya lebih mengonsentrasikan dalam urusan domestik rumah tangga ketimbang berkegiatan di luar rumah.
Sebetulnya anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut sejarawan Islam Ahmad Mansur Suryanegara, Allah SWT. sudah memerintahkan manusia dalam urusan perpolitikan sejak zaman Nabi Adam dan Hawa. Salah satu buktinya dalam alquran surat Al-Baqarah ayat 30 diterangkan, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
"Islam sudah memberikan pelajaran politik sejak dini. Untuk itu, umat Islam harus punya kesadaran dalam berpolitik. Bagaimana ketika Rasulullah bersama istri-istrinya membangun masyarakat madani dan membentuk suatu pemerintah yang modern di Madinah," katanya. Oleh karena itu, kata Mansur Suryanegara, dalam Islam tidak ada perbedaan dalam masalah gender.
Mengutip pendapat dosen senior Unisba K.H. I. Zaenuddin (alm.) arrijalu kowwamuna alannisa itu untuk di rumah, namun untuk di luar rumah perempuan bisa menjadi pemimpin dalam berbagai profesi, baik dalam bidang politik maupun bidang lainnya. "Dengan demikian, bisa saja wanita memimpin kaum pria," ujar Mansur.
Sehubungan dengan itu Ahmad Mansur menyarankan agar perempuan melakukan aktivitas dalam berbagai bidang, termasuk berpolitik, agar bisa menjadi seorang yang punya hak dipilih, bukan hanya hak memilih dalam pemilihan umum.
Kesempatan wanita berpolitik dan duduk menjadi anggota legislatif semakin terbuka ketika dikeluarkan Undang-Undang Pemilu yang pada Pasal 65 ayat 1 mencantumkan keterwakilan perempuan di legislatif sebanyak 30%.
Kendati hal itu boleh dikatakan merupakan suatu kemajuan bagi kaum perempuan, Mansyur menilai pada dasarnya kesempatan wanita duduk di legislatif tidak harus dibatasi 30%. "Biarkan saja mereka (wanita - red.) bersaing dengan kaum pria tanpa dibatasi kuotanya."
**
RUPANYA kesempatan baik yang masih dibatasi kuota itu disambut baik oleh sejumlah perempuan. Bahkan, kini tercatat sejumlah artis dan selebritis yang masuk di dalam kancah politik praktis ini. Sebuat saja Marissa Haque yang mengusung nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), atau Nurul Arifin dari Partai Golkar, juga Wanda Hamidah dari PAN.
Ketika memutuskan terjun ke politik dan menerima lamaran PDIP, Marissa Haque merasa dirinya akan bisa menyalurkan aspirasinya untuk memajukan dunia kaum wanita (lihat boks).
Nurul Arifin, artis dan aktivis perempuan yang menjadi caleg dari DPD Golkar Prov. Jabar untuk Kab. Karawang menegaskan, menjadi aktivis itu tidak harus di luar sistem, perlu juga di dalam sistem, dan ia memilih dalam lingkaran politik, tepatnya Partai Golkar. "Untuk masuk ke lingkaran ini tidak semudah membalikkan tangan, saya butuh perenungan, butuh pemikiran, karena bila ingin berjuang dan agar didengarkan banyak orang demi kepentingan masyarakat luas, harus memilih, mau berjuang atau hanya jadi penonton," katanya tegas.
"Kenapa Golkar, karena menurut saya partai inilah yang paling dekat dengan aspirasi yang selama ini saya perjuangkan. Dalam hidup ini memang kita harus mampu menentukan kemana langkah harus dikayuh. Sejauh ini saya sudah melangkah, langkah saya jelas untuk memberikan kontribusi untuk orang banyak, membangun bangsa ini, khususnya kaum perempuan."
Kalau sudah menyinggung perempuan, lanjut Nurul, akan sangat luas, bisa dalam hal pendidikan, kesehatan ibu dan anak, dll. Ia juga ingin mengusung isu-isu AIDS dan HIV agar bisa dibawa ke parlemen agar bisa diperhatikan, ditindaklanjuti, dan diimplementasikan kepada masyarakat.
"Selama ini kami sudah berjuang, misalnya mengeliminasi soal-soal kekerasan terhadap perempuan. Coba begitu banyak kaum perempuan yang menjadi objek saja. Apa kita hanya menjadi penonton? Sayang kan kalau memang ada jalannya, mengapa tidak kita ikut seerta memberi kontribusi buat kepentingan bangsa ini. Memang tidak akan langsung dirasakan sebab semua butuh waktu, butuh toleransi, dan proses," kata ibu dua anak ini.
Untuk bermain di lingkaran ini, tegasnya, bukan karena Nurul sudah dilamar Golkar. "Tetapi, sebelumnya pun saya sudah berdiri di kubu pembelaan terhadap perempuan. Itu sebabnya saya begitu antusias ketika sekelompok aktivis perempuan mengadakan pementasan teater 'Perempuan di Titik Nol' karya Nawaal El Saadawi asal Mesir. Atau, menjadi pemeran utama dalam dilm 'Kupu-kupu Ungu' yang bicara soal AIDS, HIV, dan permasalahan sosial lainnya. Itu semua karena minat yang cukup tajam untuk bisa mengeliminasi persoalan yang terjadi di masyarakat.Ketika nama saya menjadi salah satu kandidat dalam 100 nama wanita Indonesia versi Centro, sejak itu saya kemudian memperoleh kesempatan dilamar oleh beberapa partai pemilu, disitulah saya menentukan sikap. Saya sudah siap lahir batin, termasuk secara material. Jika ada orang memandang sebelah mata, biar saja, toh bukan mereka yang melakukannya. Saya juga sudah siap ditinggalkan rekan-rekan yang tidak sehaluan," ungkap istri Mayong Suryolaksono.
"Tidak!" Saya tidak mencari kepopuleran, jauh sekali. Kepopuleran sudah saya tempuh lewat film. Kalau kemudian ada anggapan bahwa terjun ke dunia politik memerlukan pengorbanan finansial, saya kira tidak salah, namun untuk itu saya sudah siap."
Diakuinya memang ada untungnya memiliki nama yang dikenal orang banyak. Paling tidak saat start tidak harus mulai dari bawah sekali.
"Saya tidak ingin bicara jadi atau tidak karena misi kita kan bagaimana meyakinkan masyarakat untuk menaruh kepercayaan terhadap misi visi yang kita bawa dalam partai. Kalau saya mendengungkan suara perempuan ya di sekitar itulah nanti yang kita persoalkan.
Tentu saja saya masih akan di dunia film, ini habitat saya. Saya ikut berpolitik karena peran saya di dunia perfilman. Oleh karena itu, jika Tuhan menghendaki dan menempatkan saya layak untuk mewakili masyarakat Jawa Barat dari Kab. Karawang saya tidak akan lepas profesi saya sebagai insan film/sinetron. Saya juga masih akan main karena justru dunia inilah yang mendekatkan saya dengan rakyat, tinggal disesuaikan saja waktunya, pilih episode yang tidak panjang, semua bisa diatur."
**
TAK hanya kalangan artis yang begitu semangat menjadi bakal caleg. Namun, mereka yang memang sebelumnya aktif di perpolitikan pun turut memanfaatkan momen keluarnya UU Pemilu tersebut. Misalnya saja Hj. Ella M. Girikomala yang lebih akrab dipanggil sebagai Hj. Ella Muhammad. Ia yang merupakan Ketua Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) Jawa Barat ini merupakan bakal calon legislatif (caleg) DPR RI Daerah Pemilihan Jabar 2 Kabupaten Bandung dari Partai Kebangkitan Bangsa.
Menurutnya, kenapa dirinya mencalonkan, karena punya rasa tanggung jawab untuk masa depan bangsa, utamanya sebagai sosok seorang perempuan yang masih banyak diperlukan kontribusi untuk memajukan peranannya dalam perpolitikan. "Selain itu, keinginan berkiprah juga karena panggilan hati nurani (internal) dan juga timbul dari eksternal dengan adanya dukungan dari berbagai pihak termasuk dukungan suami dan anak-anak sehingga saya memberanikan diri," katanya.
Keaktifannya di partai dan pencalonan sebagai wakil rakyat, menurut Ella guna memberikan motivasi dan memacu semangat bagi kaum perempuan lainnya. "Tapi tentunya, faktor penentunya harus timbul dari perempuan itu sendiri," tambahnya. Banyak perempuan yang memiliki kemampuan namun tidak punya kemauan. Untuk itu, menurutnya kemampuan harus ditopang oleh kemauan, begitupun sebaliknya.
"Perempuan pun harus siap mental dalam dunia politik, apalagi dunia politik itu dianggap dunia kotor dan keras," ujar Ella. Tetapi, ia menilai politik itu kotor, tergantung individu yang menjalankannya. "Jadi, kita harus bisa menyikapinya dan harus menyatakan bahwa politik itu tidak kotor dan keras," tegasnya.
Pengertian politik itu keras, menurutnya karena dalam politik banyak terjadi saling jegal. Untuk itu, ia berharap ada persaingan yang sehat, cantik, dan luwes.
"Namun, persaingan semacam itu tidak terlalu dirisaukan karena kita mengacu kepada UU Pemilu tentang kuota 30% bagi perempuan. Tetapi, tentu ini tergantung kebijakan partai. Kalau kebijakan partai tidak konsisten dengan UU tersebut, artinya laki-laki itu masih arogan."
Ella menyarankan sikap superioritas kaum Adam yang masih menonjol, jangan membuat kaum hawa merasa rendah diri dan kurang percaya diri. "Tantang mereka untuk bergelut di dunia politik. Mungkin bagi laki-laki tidak terlalu berat, namun bagi kaum perempuan keikutsertaan dalam dunia politik merupakan hal yang berat sebab selain aktif di luar kita pun harus mengurus rumah tangga, melayani suami, dan mengasuh anak," ujarnya memberi semangat.
Yang penting, katanya, ada komitmen dengan suami bahwa tetap rumah tangga itu menjadi tanggung jawab bersama. Selain itu, harus pandai mengelola waktu agar bisa mengatur waktu bila keluar rumah. Senada dengan Ella, Dra. Ny. Atik Lapian Adwinata, bakal calon legislatif DPRD Provinsi Jabar Daerah Pemilihan Jabar 11 dari Partai Golkar, keinginan untuk terjun ke dunia politik, keinginan menjadi anggota legislatif terdorong oleh niat untuk membela kepentingan rakyat dan mengangkat nasib rakyat.
"Khusus untuk perempuan, guna mengangkat harkat martabat wanita, diperlukan decision maker dari kalangan wanita pula. Banyak permasalahan yang harus diperjuangkan, baik masalah pelecehan seksual maupun masalah perburuhan. Meski sudah ada peraturannya, kebijakannya tidak sesuai dengan kepentingan wanita. Untuk itu, pembuat kebijakan harus dilibatkan dari kalangan perempuan."
"Meski kita juga tidak terlalu menuntut, terpenting calon anggota legislatif dari perempuan yang punya kompetensi harus diperhatikan dan diprioritaskan menjadi calon jadi anggota legislatif," ungkapnya.
Keikutsertaan kaum perempuan dalam pencalonan anggota legislatif bagi Dra. A. Fauziah Rusyad, caleg DPR RI dari Partai Bulan Bintang yang rencananya di daerah pemilihan Jabar 1 Kota Bandung dan Kota Cimahi ini, demi turut menyukseskan partai Islam dalam rangka memenangan pemilu. "Bila partai Islam menang, banyak wakil di legislatif sehingga apa yang menjadi visi misi partai bisa terwujud," ujarnya.
Keinginan menjadi anggota dewan pun terdorong oleh banyaknya pemilih dari kalangan perempuan sehingga ia bisa mengajak mereka untuk memilih wakil dari perempuan, khususnya yang berasal dari partai Islam.
Fauziah menyangsikan, apakah dengan kuota 30% target akan tercapai karena ada beberapa faktor penentu, terutama potensi dan dukungan dari suami. Kalau potensi tidak didukung suami, kuota itu tidak bisa terpenuhi.
Fauziah mengakui meski ada kuota 30%, kalangan perempuan masih banyak yang enggan berpolitik. "Padahal, di antara mereka banyak yang berpotensi, tetapi mereka takut tidak bisa membina rumah tangga dengan baik atau takut keluarga terabaikan yang mengakibatkan hancurnya rumah tangga."
Ia sepakat dengan Ella, bagi seorang perempuan menjadi anggota legislatif bukan hal yang mudah karena harus membagi waktu antara keluarga rumah dan di rumah tangga. Tetapi, kalau ada dukungan dari suami dan saling memotivasi maka tugas di rumah tangga menjadi ringan.
"Bila sudah menjadi anggota dewan, kita tidak hanya mengurus hak-hak perempuan, namun juga mengurus semua permasalahan. Karena kita wakil rakyat, sehingga kita harus memperjuangan aspirasi rakyat. Meski begitu, memang kita harus memprioritaskan permasalahan wanita, seperti memperjuangkan UU Antipornografi.
Persaingan di dalam partai tidak masalah karena sudah ada skoring dan verifikasi kepada calon legislatif, jadi yang dipilih calon yang memenuhi syarat dan kompeten. Di partai, kita justru harus saling bahu-membahu sehingga siapa pun yang jadi kita harus dukung," katanya.
Salah satu caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nurani, mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam kancah perpolitikan bukan berarti harus menanggalkan atribut keibuannya, atau melupakan tugas utama perempuan sebagai manajer rumah tangga.
Bila perlu, lanjutnya, dilakukan pengontrolan secara ketat terhadap rumah tangga setiap anggota dewan. "Bila perannya di luar rumah malah mengganggu dan bahkan merusak keluarga, pihak partai harus berani mencabut dan menggantikannya dengan aktivis perempuan lainnya," imbuh Nuarni.
Dalam PKS sendiri, menurut ibu 5 anak ini, ada mekanisme pemantauan terhadap caleg yang lolos dan duduk di legislatif. Bahkan diberikan konsultasi dan arahan-arahan langsung dari pengurus partai. Hal ini dilakukan agar tugas utama di rumah tidak terabaikan dengan perannya di legislatif.
Sementara itu, sarjana lulusan IPB ini menuturkan bahwa untuk itu jauh-jauh hari keluarga harus sudah dipersiapkan. Yang paling utama adalah menyiapkan suami, karena bagaimanapun sebagai "direktur" keluarga peran di luar rumah menjadi tugas suami, sedangkan istri yang lebih banyak mengurusi tugas intern setelah duduk di legislatif harus ditanganinya juga.
Nah, bagaimana kiat Nurani menyiapkan suami? "Selain mengomunikasikan setiap persoalan yang ada, libatkan suami sejak dini dalam proses pencalonan. Kemudian, pembahasan tentang perawatan anak lebih diintensifkan. Yang tak kalah pentingnya, tunjukkan pada suami bahwa perempuan bisa menjadi manajer yang baik di rumah tangga saat ini. Jadi, ketika berkiprah di luar rumah ia juga akan percaya tidak akan melupakan jati dirinya untuk mengurus rumah.
Selain suami, menurut istri Taufiqurrahman, dosen jurusan Biologi ITB ini, anak juga harus dipersiapkan. Setidaknya membangun kemandirrian sejak dini harus sudah dilakukan ketika akan terjun ke kancah perpolitikan. Jadi, anak tidak akan jadi batu sandungan ataupun memberatkan, bahkan kontribusinya akan sangat berarti bagi memajukan ibunya sendiri.
Sementara itu, Diah Nurwitasari, Dipl. Ing. Deputi Jaringan Lembaga Bidang Kewanitaan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jawa Barat menyatakan bahwa keterlibatannya dalam dunia politik begitu intens sejak reformasi ini. "Saya bergabung dengan PK Sejahtera sejak pertama kali PK didirikan karena sebelum itu, saya sudah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah bersama teman-teman, yang kemudian menjadi kader PK, kemudian PK Sejahtera. Sejak bergabung, saya berusaha untuk selalu terlibat dalam setiap aktivitas partai, yang notabene adalah aktivitas dakwah," kata Diah.
"Politik bagi saya adalah salah satu sarana dakwah. Jadi, yang ingin saya capai dengan politik ini adalah memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Dengan visi mewujudkan negara dan bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera, yang diridai Allah SWT., berharap dapat memberikan sumbangsih pada negara ini," ujarnya pula.
**
KETIKA perempuan beraksi memperjuangkan nasib umat, logikanya perempuan harus memiliki dasar argumen kuat yang membuat perempuan melakukan aksi. Penguasaan dan pemahaman materi yang komprehensif atas sebuah isu dapat memperkuat motivasi aksi, lebih dari sekadar ikut arus.
"Kenyataan, umumnya para perempuan tak memiliki stamina kuat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam penguatan wacana sospol. Mereka cenderung untuk mengandalkan orang lain dan menikmati hasil jadinya saja di akhir sesi lalu mengucapkan kata sepakat atas kebijakan forum atau pimpinan. Jika tidak diantisipasi, pelan namun pasti, perempuan telah menciptakan budaya paternalistik yang dapat membunuh potensi daya kritis," kata Diah Nurwitasari.
Namun demikian, dalam iklim kehidupan di Indonesia saat ini, ia melihat bahwa peluang bagi seorang perempuan untuk terjun dalam bidang politk praktis cukup besar. Kuota 30% perempuan misalnya, merupakan sebuah dorongan awal keterlibatan perempuan dalam politik praktis. Namun, tantangannya adalah terutama kemampuan perempuan itu sendiri dalam mengelola prioritas-prioritas dalam kehidupannya, baik dalam peran domestiknya maupun publik.
by
sahabat PMII KEBAL
Alasan lain yang tampaknya lebih memengaruhi mengapa kaum ibu ini tidak berpolitik praktis, tidak lain karena budaya paternalistik yang masih kental melingkupi kehidupan di bumi ini. Akibatnya, mereka yang maju ke kancah politik sebagian besar kaum pria. Dan perempuannya? Bisa dibilang dengan jari.
Ada pula yang mengartikan dari sisi ajaran agama (Islam) yang meminta kaum perempuan hendaknya lebih mengonsentrasikan dalam urusan domestik rumah tangga ketimbang berkegiatan di luar rumah.
Sebetulnya anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut sejarawan Islam Ahmad Mansur Suryanegara, Allah SWT. sudah memerintahkan manusia dalam urusan perpolitikan sejak zaman Nabi Adam dan Hawa. Salah satu buktinya dalam alquran surat Al-Baqarah ayat 30 diterangkan, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
"Islam sudah memberikan pelajaran politik sejak dini. Untuk itu, umat Islam harus punya kesadaran dalam berpolitik. Bagaimana ketika Rasulullah bersama istri-istrinya membangun masyarakat madani dan membentuk suatu pemerintah yang modern di Madinah," katanya. Oleh karena itu, kata Mansur Suryanegara, dalam Islam tidak ada perbedaan dalam masalah gender.
Mengutip pendapat dosen senior Unisba K.H. I. Zaenuddin (alm.) arrijalu kowwamuna alannisa itu untuk di rumah, namun untuk di luar rumah perempuan bisa menjadi pemimpin dalam berbagai profesi, baik dalam bidang politik maupun bidang lainnya. "Dengan demikian, bisa saja wanita memimpin kaum pria," ujar Mansur.
Sehubungan dengan itu Ahmad Mansur menyarankan agar perempuan melakukan aktivitas dalam berbagai bidang, termasuk berpolitik, agar bisa menjadi seorang yang punya hak dipilih, bukan hanya hak memilih dalam pemilihan umum.
Kesempatan wanita berpolitik dan duduk menjadi anggota legislatif semakin terbuka ketika dikeluarkan Undang-Undang Pemilu yang pada Pasal 65 ayat 1 mencantumkan keterwakilan perempuan di legislatif sebanyak 30%.
Kendati hal itu boleh dikatakan merupakan suatu kemajuan bagi kaum perempuan, Mansyur menilai pada dasarnya kesempatan wanita duduk di legislatif tidak harus dibatasi 30%. "Biarkan saja mereka (wanita - red.) bersaing dengan kaum pria tanpa dibatasi kuotanya."
**
RUPANYA kesempatan baik yang masih dibatasi kuota itu disambut baik oleh sejumlah perempuan. Bahkan, kini tercatat sejumlah artis dan selebritis yang masuk di dalam kancah politik praktis ini. Sebuat saja Marissa Haque yang mengusung nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), atau Nurul Arifin dari Partai Golkar, juga Wanda Hamidah dari PAN.
Ketika memutuskan terjun ke politik dan menerima lamaran PDIP, Marissa Haque merasa dirinya akan bisa menyalurkan aspirasinya untuk memajukan dunia kaum wanita (lihat boks).
Nurul Arifin, artis dan aktivis perempuan yang menjadi caleg dari DPD Golkar Prov. Jabar untuk Kab. Karawang menegaskan, menjadi aktivis itu tidak harus di luar sistem, perlu juga di dalam sistem, dan ia memilih dalam lingkaran politik, tepatnya Partai Golkar. "Untuk masuk ke lingkaran ini tidak semudah membalikkan tangan, saya butuh perenungan, butuh pemikiran, karena bila ingin berjuang dan agar didengarkan banyak orang demi kepentingan masyarakat luas, harus memilih, mau berjuang atau hanya jadi penonton," katanya tegas.
"Kenapa Golkar, karena menurut saya partai inilah yang paling dekat dengan aspirasi yang selama ini saya perjuangkan. Dalam hidup ini memang kita harus mampu menentukan kemana langkah harus dikayuh. Sejauh ini saya sudah melangkah, langkah saya jelas untuk memberikan kontribusi untuk orang banyak, membangun bangsa ini, khususnya kaum perempuan."
Kalau sudah menyinggung perempuan, lanjut Nurul, akan sangat luas, bisa dalam hal pendidikan, kesehatan ibu dan anak, dll. Ia juga ingin mengusung isu-isu AIDS dan HIV agar bisa dibawa ke parlemen agar bisa diperhatikan, ditindaklanjuti, dan diimplementasikan kepada masyarakat.
"Selama ini kami sudah berjuang, misalnya mengeliminasi soal-soal kekerasan terhadap perempuan. Coba begitu banyak kaum perempuan yang menjadi objek saja. Apa kita hanya menjadi penonton? Sayang kan kalau memang ada jalannya, mengapa tidak kita ikut seerta memberi kontribusi buat kepentingan bangsa ini. Memang tidak akan langsung dirasakan sebab semua butuh waktu, butuh toleransi, dan proses," kata ibu dua anak ini.
Untuk bermain di lingkaran ini, tegasnya, bukan karena Nurul sudah dilamar Golkar. "Tetapi, sebelumnya pun saya sudah berdiri di kubu pembelaan terhadap perempuan. Itu sebabnya saya begitu antusias ketika sekelompok aktivis perempuan mengadakan pementasan teater 'Perempuan di Titik Nol' karya Nawaal El Saadawi asal Mesir. Atau, menjadi pemeran utama dalam dilm 'Kupu-kupu Ungu' yang bicara soal AIDS, HIV, dan permasalahan sosial lainnya. Itu semua karena minat yang cukup tajam untuk bisa mengeliminasi persoalan yang terjadi di masyarakat.Ketika nama saya menjadi salah satu kandidat dalam 100 nama wanita Indonesia versi Centro, sejak itu saya kemudian memperoleh kesempatan dilamar oleh beberapa partai pemilu, disitulah saya menentukan sikap. Saya sudah siap lahir batin, termasuk secara material. Jika ada orang memandang sebelah mata, biar saja, toh bukan mereka yang melakukannya. Saya juga sudah siap ditinggalkan rekan-rekan yang tidak sehaluan," ungkap istri Mayong Suryolaksono.
"Tidak!" Saya tidak mencari kepopuleran, jauh sekali. Kepopuleran sudah saya tempuh lewat film. Kalau kemudian ada anggapan bahwa terjun ke dunia politik memerlukan pengorbanan finansial, saya kira tidak salah, namun untuk itu saya sudah siap."
Diakuinya memang ada untungnya memiliki nama yang dikenal orang banyak. Paling tidak saat start tidak harus mulai dari bawah sekali.
"Saya tidak ingin bicara jadi atau tidak karena misi kita kan bagaimana meyakinkan masyarakat untuk menaruh kepercayaan terhadap misi visi yang kita bawa dalam partai. Kalau saya mendengungkan suara perempuan ya di sekitar itulah nanti yang kita persoalkan.
Tentu saja saya masih akan di dunia film, ini habitat saya. Saya ikut berpolitik karena peran saya di dunia perfilman. Oleh karena itu, jika Tuhan menghendaki dan menempatkan saya layak untuk mewakili masyarakat Jawa Barat dari Kab. Karawang saya tidak akan lepas profesi saya sebagai insan film/sinetron. Saya juga masih akan main karena justru dunia inilah yang mendekatkan saya dengan rakyat, tinggal disesuaikan saja waktunya, pilih episode yang tidak panjang, semua bisa diatur."
**
TAK hanya kalangan artis yang begitu semangat menjadi bakal caleg. Namun, mereka yang memang sebelumnya aktif di perpolitikan pun turut memanfaatkan momen keluarnya UU Pemilu tersebut. Misalnya saja Hj. Ella M. Girikomala yang lebih akrab dipanggil sebagai Hj. Ella Muhammad. Ia yang merupakan Ketua Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) Jawa Barat ini merupakan bakal calon legislatif (caleg) DPR RI Daerah Pemilihan Jabar 2 Kabupaten Bandung dari Partai Kebangkitan Bangsa.
Menurutnya, kenapa dirinya mencalonkan, karena punya rasa tanggung jawab untuk masa depan bangsa, utamanya sebagai sosok seorang perempuan yang masih banyak diperlukan kontribusi untuk memajukan peranannya dalam perpolitikan. "Selain itu, keinginan berkiprah juga karena panggilan hati nurani (internal) dan juga timbul dari eksternal dengan adanya dukungan dari berbagai pihak termasuk dukungan suami dan anak-anak sehingga saya memberanikan diri," katanya.
Keaktifannya di partai dan pencalonan sebagai wakil rakyat, menurut Ella guna memberikan motivasi dan memacu semangat bagi kaum perempuan lainnya. "Tapi tentunya, faktor penentunya harus timbul dari perempuan itu sendiri," tambahnya. Banyak perempuan yang memiliki kemampuan namun tidak punya kemauan. Untuk itu, menurutnya kemampuan harus ditopang oleh kemauan, begitupun sebaliknya.
"Perempuan pun harus siap mental dalam dunia politik, apalagi dunia politik itu dianggap dunia kotor dan keras," ujar Ella. Tetapi, ia menilai politik itu kotor, tergantung individu yang menjalankannya. "Jadi, kita harus bisa menyikapinya dan harus menyatakan bahwa politik itu tidak kotor dan keras," tegasnya.
Pengertian politik itu keras, menurutnya karena dalam politik banyak terjadi saling jegal. Untuk itu, ia berharap ada persaingan yang sehat, cantik, dan luwes.
"Namun, persaingan semacam itu tidak terlalu dirisaukan karena kita mengacu kepada UU Pemilu tentang kuota 30% bagi perempuan. Tetapi, tentu ini tergantung kebijakan partai. Kalau kebijakan partai tidak konsisten dengan UU tersebut, artinya laki-laki itu masih arogan."
Ella menyarankan sikap superioritas kaum Adam yang masih menonjol, jangan membuat kaum hawa merasa rendah diri dan kurang percaya diri. "Tantang mereka untuk bergelut di dunia politik. Mungkin bagi laki-laki tidak terlalu berat, namun bagi kaum perempuan keikutsertaan dalam dunia politik merupakan hal yang berat sebab selain aktif di luar kita pun harus mengurus rumah tangga, melayani suami, dan mengasuh anak," ujarnya memberi semangat.
Yang penting, katanya, ada komitmen dengan suami bahwa tetap rumah tangga itu menjadi tanggung jawab bersama. Selain itu, harus pandai mengelola waktu agar bisa mengatur waktu bila keluar rumah. Senada dengan Ella, Dra. Ny. Atik Lapian Adwinata, bakal calon legislatif DPRD Provinsi Jabar Daerah Pemilihan Jabar 11 dari Partai Golkar, keinginan untuk terjun ke dunia politik, keinginan menjadi anggota legislatif terdorong oleh niat untuk membela kepentingan rakyat dan mengangkat nasib rakyat.
"Khusus untuk perempuan, guna mengangkat harkat martabat wanita, diperlukan decision maker dari kalangan wanita pula. Banyak permasalahan yang harus diperjuangkan, baik masalah pelecehan seksual maupun masalah perburuhan. Meski sudah ada peraturannya, kebijakannya tidak sesuai dengan kepentingan wanita. Untuk itu, pembuat kebijakan harus dilibatkan dari kalangan perempuan."
"Meski kita juga tidak terlalu menuntut, terpenting calon anggota legislatif dari perempuan yang punya kompetensi harus diperhatikan dan diprioritaskan menjadi calon jadi anggota legislatif," ungkapnya.
Keikutsertaan kaum perempuan dalam pencalonan anggota legislatif bagi Dra. A. Fauziah Rusyad, caleg DPR RI dari Partai Bulan Bintang yang rencananya di daerah pemilihan Jabar 1 Kota Bandung dan Kota Cimahi ini, demi turut menyukseskan partai Islam dalam rangka memenangan pemilu. "Bila partai Islam menang, banyak wakil di legislatif sehingga apa yang menjadi visi misi partai bisa terwujud," ujarnya.
Keinginan menjadi anggota dewan pun terdorong oleh banyaknya pemilih dari kalangan perempuan sehingga ia bisa mengajak mereka untuk memilih wakil dari perempuan, khususnya yang berasal dari partai Islam.
Fauziah menyangsikan, apakah dengan kuota 30% target akan tercapai karena ada beberapa faktor penentu, terutama potensi dan dukungan dari suami. Kalau potensi tidak didukung suami, kuota itu tidak bisa terpenuhi.
Fauziah mengakui meski ada kuota 30%, kalangan perempuan masih banyak yang enggan berpolitik. "Padahal, di antara mereka banyak yang berpotensi, tetapi mereka takut tidak bisa membina rumah tangga dengan baik atau takut keluarga terabaikan yang mengakibatkan hancurnya rumah tangga."
Ia sepakat dengan Ella, bagi seorang perempuan menjadi anggota legislatif bukan hal yang mudah karena harus membagi waktu antara keluarga rumah dan di rumah tangga. Tetapi, kalau ada dukungan dari suami dan saling memotivasi maka tugas di rumah tangga menjadi ringan.
"Bila sudah menjadi anggota dewan, kita tidak hanya mengurus hak-hak perempuan, namun juga mengurus semua permasalahan. Karena kita wakil rakyat, sehingga kita harus memperjuangan aspirasi rakyat. Meski begitu, memang kita harus memprioritaskan permasalahan wanita, seperti memperjuangkan UU Antipornografi.
Persaingan di dalam partai tidak masalah karena sudah ada skoring dan verifikasi kepada calon legislatif, jadi yang dipilih calon yang memenuhi syarat dan kompeten. Di partai, kita justru harus saling bahu-membahu sehingga siapa pun yang jadi kita harus dukung," katanya.
Salah satu caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nurani, mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam kancah perpolitikan bukan berarti harus menanggalkan atribut keibuannya, atau melupakan tugas utama perempuan sebagai manajer rumah tangga.
Bila perlu, lanjutnya, dilakukan pengontrolan secara ketat terhadap rumah tangga setiap anggota dewan. "Bila perannya di luar rumah malah mengganggu dan bahkan merusak keluarga, pihak partai harus berani mencabut dan menggantikannya dengan aktivis perempuan lainnya," imbuh Nuarni.
Dalam PKS sendiri, menurut ibu 5 anak ini, ada mekanisme pemantauan terhadap caleg yang lolos dan duduk di legislatif. Bahkan diberikan konsultasi dan arahan-arahan langsung dari pengurus partai. Hal ini dilakukan agar tugas utama di rumah tidak terabaikan dengan perannya di legislatif.
Sementara itu, sarjana lulusan IPB ini menuturkan bahwa untuk itu jauh-jauh hari keluarga harus sudah dipersiapkan. Yang paling utama adalah menyiapkan suami, karena bagaimanapun sebagai "direktur" keluarga peran di luar rumah menjadi tugas suami, sedangkan istri yang lebih banyak mengurusi tugas intern setelah duduk di legislatif harus ditanganinya juga.
Nah, bagaimana kiat Nurani menyiapkan suami? "Selain mengomunikasikan setiap persoalan yang ada, libatkan suami sejak dini dalam proses pencalonan. Kemudian, pembahasan tentang perawatan anak lebih diintensifkan. Yang tak kalah pentingnya, tunjukkan pada suami bahwa perempuan bisa menjadi manajer yang baik di rumah tangga saat ini. Jadi, ketika berkiprah di luar rumah ia juga akan percaya tidak akan melupakan jati dirinya untuk mengurus rumah.
Selain suami, menurut istri Taufiqurrahman, dosen jurusan Biologi ITB ini, anak juga harus dipersiapkan. Setidaknya membangun kemandirrian sejak dini harus sudah dilakukan ketika akan terjun ke kancah perpolitikan. Jadi, anak tidak akan jadi batu sandungan ataupun memberatkan, bahkan kontribusinya akan sangat berarti bagi memajukan ibunya sendiri.
Sementara itu, Diah Nurwitasari, Dipl. Ing. Deputi Jaringan Lembaga Bidang Kewanitaan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jawa Barat menyatakan bahwa keterlibatannya dalam dunia politik begitu intens sejak reformasi ini. "Saya bergabung dengan PK Sejahtera sejak pertama kali PK didirikan karena sebelum itu, saya sudah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah bersama teman-teman, yang kemudian menjadi kader PK, kemudian PK Sejahtera. Sejak bergabung, saya berusaha untuk selalu terlibat dalam setiap aktivitas partai, yang notabene adalah aktivitas dakwah," kata Diah.
"Politik bagi saya adalah salah satu sarana dakwah. Jadi, yang ingin saya capai dengan politik ini adalah memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Dengan visi mewujudkan negara dan bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera, yang diridai Allah SWT., berharap dapat memberikan sumbangsih pada negara ini," ujarnya pula.
**
KETIKA perempuan beraksi memperjuangkan nasib umat, logikanya perempuan harus memiliki dasar argumen kuat yang membuat perempuan melakukan aksi. Penguasaan dan pemahaman materi yang komprehensif atas sebuah isu dapat memperkuat motivasi aksi, lebih dari sekadar ikut arus.
"Kenyataan, umumnya para perempuan tak memiliki stamina kuat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam penguatan wacana sospol. Mereka cenderung untuk mengandalkan orang lain dan menikmati hasil jadinya saja di akhir sesi lalu mengucapkan kata sepakat atas kebijakan forum atau pimpinan. Jika tidak diantisipasi, pelan namun pasti, perempuan telah menciptakan budaya paternalistik yang dapat membunuh potensi daya kritis," kata Diah Nurwitasari.
Namun demikian, dalam iklim kehidupan di Indonesia saat ini, ia melihat bahwa peluang bagi seorang perempuan untuk terjun dalam bidang politk praktis cukup besar. Kuota 30% perempuan misalnya, merupakan sebuah dorongan awal keterlibatan perempuan dalam politik praktis. Namun, tantangannya adalah terutama kemampuan perempuan itu sendiri dalam mengelola prioritas-prioritas dalam kehidupannya, baik dalam peran domestiknya maupun publik.
by
sahabat PMII KEBAL
Kamis, 08 Mei 2008
Jadi Tuhan
Sudah sejak lama kita berteriak lantang, berharap agar kegelisahan kegelisahan yang menyesakan dada terhempas keluar dan penderiataan yang selama ini kita alami sebagai seorang yang katanya beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa ( Muslim) atas penindasan penindasan dan intimidasi dari kaum yang kita anggap "kafir" hilang atau sedikit berkurang. Namun apa yang terjadi??? Selain hal kita harapkan tak jua kunjang datang mengahampiri, yang terjadi malah justeru sebaliknya, kita semakin terhimpit dan terdesak pada sudut kehancuran, kehancuran dari semua aspek, disana sini dapat kita lihat dengan jelas aksi aksi anarkis, premanisme merajalela di kantor, di jalanan dan bahkan dirumah rumah ibadah, dimana mana juga dapat kita saksikan pemerkosaan pemerkosaan hak, hak sebagai warga negara, hak sebagai penganut agama atau kepercayaan, hak sebagai bagian dari masyarakat dan bahkan hak sebagai manusia yang notabenenya diberikan kebebasan selaus luasnya oleh Allah SWT untuk memilih apa yang paling kita kehendaki. Tampaknya, anugrah Allah yang Maha Luas dan Maha Tinggi itu telah dimanipulasi oleh diri kita sendiri atau segelintir orang untuk kepentingan sesaat, dan bahkan syurga dan neraka yang "baru" Allah janjikan telah kita gadaikan terlebih dahulu, mungkin malah kita jual, parahnya lagi sering kali kita jual di pasar loak, ini dapat kita tela'ah saat begitu mudahnya kita mengklaim suatu kebenaran atau menuding suatu kesalahan yang berujung pada pemaksaan pemahaman tertentu pastinya juga hal akan berakibat pada pemaksaan pengamalan. Pertanyaannya adalah,,,,,,,,, apakah Allah SWT yang Maha Segala galanya itu, Tuhan yang "kita imani" pernah memaksa kita untuk memilih satu dari sekian banyak pilihan yang di berikan???????? Maka kalau kita berbuat demikian (memaksakan kehendak atas orang lain) sepertinya tidak berlebihan kalau makhluk lain memposisikan kita pada posisi Fir'aun fir'aun baru, edisi millennium, jilid kesekian……. Karena baik disadari atau tidak kita telah mengobok obok dan bahkan memanupulasi wilayah Tuhan. Kalau sudah begini, apakah kita masih pantas disebut sebagai orang orang yang beriman? Apakah kita masih sepadan dengan makhluk Tuhan yang bernama manusia? Begitu banyak kesalahan yang kita lakukan, baik kesalahan yang kita lakukan sendiri sendiri ataupun yang kita lakukan dengan berjamaah, itu semua terjadi karena pemahaman kita yang sempit tentang ajaran yang di bawa Nabi Pamungkas kita Muhammad SAW, pemahaman yang terkotak kotak, tidak menyeluruh,dan tidak menyentuh esensi dari ajaran itu sendiri, serta pemahaman yang telah dipolitisir, dan intinya adalah pemahaman kita yang DANGKAL!!!. Sudah saatnya kita BERBENAH dengan memahami ISLAM SECARA MURNI DAN KESELURUHAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
By
Heri Wibowo
By
Heri Wibowo
apa itu PMII?
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah Mahbub Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalis sekaligus politikus legendaris).
[sunting] Makna Filosofis
Dari namanya PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.
Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.
“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).
Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.
[sunting] Makna Filosofis
Dari namanya PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.
Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.
“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).
Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.
Ahmadiyah dan Realita Sosial Politik Indonesia
Ahmadiyah, begitu mendengar kata Ahmadiyah, mungkin langsung terlintas dibenak kita beberapa peristiwa kerusuhan yang terjadi diberbagai tempat di tanah air akhir-akhir ini, yang memang pemberitaannya dimedia massa sedang sangat inn (baca: gencar), hampir seluruh media memberitakan aliran keagamaan yang sementara ini dianggap sesat itu.
Bahkan hampir dapat dipastikan, setiap kita menyaksikan siaran berita di televisi atau membaca Koran, sangat mudah dijumpai pemberitaan tentang ahmadiyah, sebuah aliran yang sebenarnya sudah bercokol cukup lama dibumi nusantara.
Pun demikian, para penganut aliran yang asal usulnya dari negeri di Asia kecil itu tetap bersiteguh memegang keyakinannya.
Walaupun disana-sini mendapat hujatan dan hardikan dari berbagai pihak, dan bahkan Majlis Ulama Indonesia sendiri telah menyudutkannya dengan fatwa "saktinya" yang justeru seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan arif dan bijaksana.
Sehingga perbuatan-perbuatan anarkis yang dilakukan oleh segolongan orang yang mengaku muslim dapat dicegah, karena terlepas dari apakah yang dilakukan golongan ahmadiyah ini melukai hati umat muslim atau tidak tetapi yang jelas perbuatan anarkis hanya akan merusak citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin (baca: pemberi rahmat bagi sekalian alam) baik, muslim atau non muslim, baik orang jahat maupun orang baik.
Apabila kita mau menilik lebih jauh tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada saat ini, mungkin kita dapat menghemat atau setidaknya mengurangi energi kita, agar tidak terbuang sia-sia dengan aksi-aksi yang sebenarnya kita sendiri masih bingung karena tidak mengetahui duduk persoalannya secara pasti dan hanya melakukan tindakan heroisme brutal yang sangat mungkin hasil provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Dapat kita lihat dengan jelas secara bersama-sama, hampir disetiap waktu menjelang pemilu (baca: pemilihan umum) khususnya pemilihan presiden Republik ini, selalu bermunculan isu-isu yang mengantarkan masyarakat bangsa kita pada situasi panas, dan labil.
Juga perlu diingat kembali bahwa golongan ahmadiyah ini, atau golongan yang mengaku bagian dari muslim tetapi mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi setelah kenabian Muhammad SAW yang pada prinsipnya sebagai Nabi Pamungkas ( Baca: Nabi paling akhir) menurut al Qur an sudah lama sekali bercokol dibumi pertiwi, tentunya dengan segala kegiatan ritualnya. Karena tidak mungkin orang yang benar-benar mengimani sesuatu tetapi tidak melakukan apa yang diimaninya itu.
Menjadi wajar bila kita secara berbarengan bertanya pada diri kita sendiri mengapa isu ahmadiyah baru booming dan meledak pada saat pelaksanaan pesta demokrasi dan pemilu semakin dekat? Kenapa tidak sejak dari dulu saja?
Kalau kita memang benar-benar mau membumi hanguskan aliran ini tentunya kita sudah melakukannya sejak dari dulu, sejak komunitas terkecil yang menjadi tempat pertama kali golongan ini tinggal dan berkoloni, karena sudah pasti orang-orang muslim yang paling merasa tersakiti hatinya adalah orang-orang yang paling dekat lokasinya dengan komunitas ahmadiyah ini.
Apakah Islam terlalu lemah pada saat itu? Tentunya tidak, karena bila kita teliti dengan cermat, bahkan pada akhir-akhir ini telah terjadi penyusutan ummat Islam di Indonesia. Berarti umat Islam pada waktu itu cukup bahkan sangat kuat untuk sekedar memberangus ahmadiyah dari Indonesia, kenapa tidak dilakukan?
Maka sangat mungkin, apa yang telah kita lakukan(baca: menabur benci) kepada ahmadiyah ini merupakan hasil dari rekayasa social para politisi atas dasar kepentingan politiknya atau rekayasa dari orang-orang yang tidak suka dengan Islam baik dalam skala nasional maupun internasional.
Sehingga setelah ummat islam tercerai berai karena permasalahan ini, umat islam yang sejatinya penduduk paling banyak di NKRI dan paling bertanggungjawab terhadap kehidupan sosialnya sebagai khalifatul ardl terbengkelai.
Sayogyanya kita sebagai hamba Tuhan yang Maha Tahu atas semua yang terjadi mengembalikan semua kepada-Nya, dengan memohon petunjuknya kita bersama-sama merenungkan kembali apa yang telah kita perbuat, khususnya pada kasus ahmadiyah ini, sehingga apa pun yang kita lakukan benar-benar dari hati Nurani paling dalam dan atas petunjuk Tuhan serta bukan dari buah provokasi orang-orang yang ingin menghancurkan islam dengan cara paling halus.
Heri Wibowo
Bahkan hampir dapat dipastikan, setiap kita menyaksikan siaran berita di televisi atau membaca Koran, sangat mudah dijumpai pemberitaan tentang ahmadiyah, sebuah aliran yang sebenarnya sudah bercokol cukup lama dibumi nusantara.
Pun demikian, para penganut aliran yang asal usulnya dari negeri di Asia kecil itu tetap bersiteguh memegang keyakinannya.
Walaupun disana-sini mendapat hujatan dan hardikan dari berbagai pihak, dan bahkan Majlis Ulama Indonesia sendiri telah menyudutkannya dengan fatwa "saktinya" yang justeru seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan arif dan bijaksana.
Sehingga perbuatan-perbuatan anarkis yang dilakukan oleh segolongan orang yang mengaku muslim dapat dicegah, karena terlepas dari apakah yang dilakukan golongan ahmadiyah ini melukai hati umat muslim atau tidak tetapi yang jelas perbuatan anarkis hanya akan merusak citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin (baca: pemberi rahmat bagi sekalian alam) baik, muslim atau non muslim, baik orang jahat maupun orang baik.
Apabila kita mau menilik lebih jauh tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada saat ini, mungkin kita dapat menghemat atau setidaknya mengurangi energi kita, agar tidak terbuang sia-sia dengan aksi-aksi yang sebenarnya kita sendiri masih bingung karena tidak mengetahui duduk persoalannya secara pasti dan hanya melakukan tindakan heroisme brutal yang sangat mungkin hasil provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Dapat kita lihat dengan jelas secara bersama-sama, hampir disetiap waktu menjelang pemilu (baca: pemilihan umum) khususnya pemilihan presiden Republik ini, selalu bermunculan isu-isu yang mengantarkan masyarakat bangsa kita pada situasi panas, dan labil.
Juga perlu diingat kembali bahwa golongan ahmadiyah ini, atau golongan yang mengaku bagian dari muslim tetapi mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi setelah kenabian Muhammad SAW yang pada prinsipnya sebagai Nabi Pamungkas ( Baca: Nabi paling akhir) menurut al Qur an sudah lama sekali bercokol dibumi pertiwi, tentunya dengan segala kegiatan ritualnya. Karena tidak mungkin orang yang benar-benar mengimani sesuatu tetapi tidak melakukan apa yang diimaninya itu.
Menjadi wajar bila kita secara berbarengan bertanya pada diri kita sendiri mengapa isu ahmadiyah baru booming dan meledak pada saat pelaksanaan pesta demokrasi dan pemilu semakin dekat? Kenapa tidak sejak dari dulu saja?
Kalau kita memang benar-benar mau membumi hanguskan aliran ini tentunya kita sudah melakukannya sejak dari dulu, sejak komunitas terkecil yang menjadi tempat pertama kali golongan ini tinggal dan berkoloni, karena sudah pasti orang-orang muslim yang paling merasa tersakiti hatinya adalah orang-orang yang paling dekat lokasinya dengan komunitas ahmadiyah ini.
Apakah Islam terlalu lemah pada saat itu? Tentunya tidak, karena bila kita teliti dengan cermat, bahkan pada akhir-akhir ini telah terjadi penyusutan ummat Islam di Indonesia. Berarti umat Islam pada waktu itu cukup bahkan sangat kuat untuk sekedar memberangus ahmadiyah dari Indonesia, kenapa tidak dilakukan?
Maka sangat mungkin, apa yang telah kita lakukan(baca: menabur benci) kepada ahmadiyah ini merupakan hasil dari rekayasa social para politisi atas dasar kepentingan politiknya atau rekayasa dari orang-orang yang tidak suka dengan Islam baik dalam skala nasional maupun internasional.
Sehingga setelah ummat islam tercerai berai karena permasalahan ini, umat islam yang sejatinya penduduk paling banyak di NKRI dan paling bertanggungjawab terhadap kehidupan sosialnya sebagai khalifatul ardl terbengkelai.
Sayogyanya kita sebagai hamba Tuhan yang Maha Tahu atas semua yang terjadi mengembalikan semua kepada-Nya, dengan memohon petunjuknya kita bersama-sama merenungkan kembali apa yang telah kita perbuat, khususnya pada kasus ahmadiyah ini, sehingga apa pun yang kita lakukan benar-benar dari hati Nurani paling dalam dan atas petunjuk Tuhan serta bukan dari buah provokasi orang-orang yang ingin menghancurkan islam dengan cara paling halus.
Heri Wibowo
Dengan Bergerak Bersama, Kita Bangkit
Dengan memanfaatkan momen peringatan Hari Lahir (HARLAH) Pergarakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sayogyanya kita sebagai insan pergerakan dapat kembali menggali makna dari sekian banyak arti yang disuguhkan perputaran zaman.
Setelah 48 tahun PMII dilahirkan dari rahim nurani Ibu pertiwi yang sangat mendambakan putra/i Bangsa yang militan dalam menjaga dan melestarikan keutuhan NKRI dengan segala komponen positifnya.
Akan sangat disayangkan bila kita yang sudah diutus sebagai khalifatul ardl khususnya insan pergerakan di indoneia tidak bisa/ TIDAK MAU melaksanakan tugas sebagaimana layaknya manusia. Sebenarnya semuanya bisa kita lakukan dengan terlebih dahulu menyadari diri kita sendiri sebagai makhluk yang di beri nama manusia dengan segala konsekwensinya
. Hadirnya kembali momen bersejarah ini dapat kita manfaatkan sebagai starting point di tahun ini untuk memenuhi tugas rahmatan lil alamin, dengan bergerak bersama yang kemudian tidak mandek pada gerakan-gerakan kosong dan hambar yang hanya menjadi parfume sementara dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa. Tapi ada yang lebih penting atau tindak lanjut dari gerakan-gerakan yang kita lakukan secara bersama-sama dan berbarengan yakni kita harus mampu bangkit merealisasikan cita-cita bersama, mewujudkan PMII yang siap menjawab semua tantangan masa depan yang semakin rumit.
Setelah 48 tahun PMII dilahirkan dari rahim nurani Ibu pertiwi yang sangat mendambakan putra/i Bangsa yang militan dalam menjaga dan melestarikan keutuhan NKRI dengan segala komponen positifnya.
Akan sangat disayangkan bila kita yang sudah diutus sebagai khalifatul ardl khususnya insan pergerakan di indoneia tidak bisa/ TIDAK MAU melaksanakan tugas sebagaimana layaknya manusia. Sebenarnya semuanya bisa kita lakukan dengan terlebih dahulu menyadari diri kita sendiri sebagai makhluk yang di beri nama manusia dengan segala konsekwensinya
. Hadirnya kembali momen bersejarah ini dapat kita manfaatkan sebagai starting point di tahun ini untuk memenuhi tugas rahmatan lil alamin, dengan bergerak bersama yang kemudian tidak mandek pada gerakan-gerakan kosong dan hambar yang hanya menjadi parfume sementara dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa. Tapi ada yang lebih penting atau tindak lanjut dari gerakan-gerakan yang kita lakukan secara bersama-sama dan berbarengan yakni kita harus mampu bangkit merealisasikan cita-cita bersama, mewujudkan PMII yang siap menjawab semua tantangan masa depan yang semakin rumit.
Rabu, 07 Mei 2008
Personalia Journalist Independent Club (JIC)
Pimpinan Umum : Heri Wibowo
Sekretaris : Tuti Herawati
Anggota : Abdurrahman Hakim
Siti Abidah el Farasy
Fatihah
Langganan:
Postingan (Atom)









