Minggu, 11 Mei 2008

Wanita Berpolitik Harus Siap Mental

BERPOLITIK kegiatan yang dulu sempat dijauhi kaum perempuan karena dianggap sebagai "lahan" laki-laki. Juga karena perasaan wanita yang halus memandangnya sebagai suatu kegiatan yang "kotor" karena terkadang dilumuri oleh upaya yang dinilai "curang" demi mencapai satu tujuan.

Alasan lain yang tampaknya lebih memengaruhi mengapa kaum ibu ini tidak berpolitik praktis, tidak lain karena budaya paternalistik yang masih kental melingkupi kehidupan di bumi ini. Akibatnya, mereka yang maju ke kancah politik sebagian besar kaum pria. Dan perempuannya? Bisa dibilang dengan jari.

Ada pula yang mengartikan dari sisi ajaran agama (Islam) yang meminta kaum perempuan hendaknya lebih mengonsentrasikan dalam urusan domestik rumah tangga ketimbang berkegiatan di luar rumah.

Sebetulnya anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut sejarawan Islam Ahmad Mansur Suryanegara, Allah SWT. sudah memerintahkan manusia dalam urusan perpolitikan sejak zaman Nabi Adam dan Hawa. Salah satu buktinya dalam alquran surat Al-Baqarah ayat 30 diterangkan, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".

"Islam sudah memberikan pelajaran politik sejak dini. Untuk itu, umat Islam harus punya kesadaran dalam berpolitik. Bagaimana ketika Rasulullah bersama istri-istrinya membangun masyarakat madani dan membentuk suatu pemerintah yang modern di Madinah," katanya. Oleh karena itu, kata Mansur Suryanegara, dalam Islam tidak ada perbedaan dalam masalah gender.

Mengutip pendapat dosen senior Unisba K.H. I. Zaenuddin (alm.) arrijalu kowwamuna alannisa itu untuk di rumah, namun untuk di luar rumah perempuan bisa menjadi pemimpin dalam berbagai profesi, baik dalam bidang politik maupun bidang lainnya. "Dengan demikian, bisa saja wanita memimpin kaum pria," ujar Mansur.

Sehubungan dengan itu Ahmad Mansur menyarankan agar perempuan melakukan aktivitas dalam berbagai bidang, termasuk berpolitik, agar bisa menjadi seorang yang punya hak dipilih, bukan hanya hak memilih dalam pemilihan umum.

Kesempatan wanita berpolitik dan duduk menjadi anggota legislatif semakin terbuka ketika dikeluarkan Undang-Undang Pemilu yang pada Pasal 65 ayat 1 mencantumkan keterwakilan perempuan di legislatif sebanyak 30%.

Kendati hal itu boleh dikatakan merupakan suatu kemajuan bagi kaum perempuan, Mansyur menilai pada dasarnya kesempatan wanita duduk di legislatif tidak harus dibatasi 30%. "Biarkan saja mereka (wanita - red.) bersaing dengan kaum pria tanpa dibatasi kuotanya."

**

RUPANYA kesempatan baik yang masih dibatasi kuota itu disambut baik oleh sejumlah perempuan. Bahkan, kini tercatat sejumlah artis dan selebritis yang masuk di dalam kancah politik praktis ini. Sebuat saja Marissa Haque yang mengusung nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), atau Nurul Arifin dari Partai Golkar, juga Wanda Hamidah dari PAN.

Ketika memutuskan terjun ke politik dan menerima lamaran PDIP, Marissa Haque merasa dirinya akan bisa menyalurkan aspirasinya untuk memajukan dunia kaum wanita (lihat boks).

Nurul Arifin, artis dan aktivis perempuan yang menjadi caleg dari DPD Golkar Prov. Jabar untuk Kab. Karawang menegaskan, menjadi aktivis itu tidak harus di luar sistem, perlu juga di dalam sistem, dan ia memilih dalam lingkaran politik, tepatnya Partai Golkar. "Untuk masuk ke lingkaran ini tidak semudah membalikkan tangan, saya butuh perenungan, butuh pemikiran, karena bila ingin berjuang dan agar didengarkan banyak orang demi kepentingan masyarakat luas, harus memilih, mau berjuang atau hanya jadi penonton," katanya tegas.

"Kenapa Golkar, karena menurut saya partai inilah yang paling dekat dengan aspirasi yang selama ini saya perjuangkan. Dalam hidup ini memang kita harus mampu menentukan kemana langkah harus dikayuh. Sejauh ini saya sudah melangkah, langkah saya jelas untuk memberikan kontribusi untuk orang banyak, membangun bangsa ini, khususnya kaum perempuan."

Kalau sudah menyinggung perempuan, lanjut Nurul, akan sangat luas, bisa dalam hal pendidikan, kesehatan ibu dan anak, dll. Ia juga ingin mengusung isu-isu AIDS dan HIV agar bisa dibawa ke parlemen agar bisa diperhatikan, ditindaklanjuti, dan diimplementasikan kepada masyarakat.

"Selama ini kami sudah berjuang, misalnya mengeliminasi soal-soal kekerasan terhadap perempuan. Coba begitu banyak kaum perempuan yang menjadi objek saja. Apa kita hanya menjadi penonton? Sayang kan kalau memang ada jalannya, mengapa tidak kita ikut seerta memberi kontribusi buat kepentingan bangsa ini. Memang tidak akan langsung dirasakan sebab semua butuh waktu, butuh toleransi, dan proses," kata ibu dua anak ini.

Untuk bermain di lingkaran ini, tegasnya, bukan karena Nurul sudah dilamar Golkar. "Tetapi, sebelumnya pun saya sudah berdiri di kubu pembelaan terhadap perempuan. Itu sebabnya saya begitu antusias ketika sekelompok aktivis perempuan mengadakan pementasan teater 'Perempuan di Titik Nol' karya Nawaal El Saadawi asal Mesir. Atau, menjadi pemeran utama dalam dilm 'Kupu-kupu Ungu' yang bicara soal AIDS, HIV, dan permasalahan sosial lainnya. Itu semua karena minat yang cukup tajam untuk bisa mengeliminasi persoalan yang terjadi di masyarakat.Ketika nama saya menjadi salah satu kandidat dalam 100 nama wanita Indonesia versi Centro, sejak itu saya kemudian memperoleh kesempatan dilamar oleh beberapa partai pemilu, disitulah saya menentukan sikap. Saya sudah siap lahir batin, termasuk secara material. Jika ada orang memandang sebelah mata, biar saja, toh bukan mereka yang melakukannya. Saya juga sudah siap ditinggalkan rekan-rekan yang tidak sehaluan," ungkap istri Mayong Suryolaksono.

"Tidak!" Saya tidak mencari kepopuleran, jauh sekali. Kepopuleran sudah saya tempuh lewat film. Kalau kemudian ada anggapan bahwa terjun ke dunia politik memerlukan pengorbanan finansial, saya kira tidak salah, namun untuk itu saya sudah siap."

Diakuinya memang ada untungnya memiliki nama yang dikenal orang banyak. Paling tidak saat start tidak harus mulai dari bawah sekali.

"Saya tidak ingin bicara jadi atau tidak karena misi kita kan bagaimana meyakinkan masyarakat untuk menaruh kepercayaan terhadap misi visi yang kita bawa dalam partai. Kalau saya mendengungkan suara perempuan ya di sekitar itulah nanti yang kita persoalkan.

Tentu saja saya masih akan di dunia film, ini habitat saya. Saya ikut berpolitik karena peran saya di dunia perfilman. Oleh karena itu, jika Tuhan menghendaki dan menempatkan saya layak untuk mewakili masyarakat Jawa Barat dari Kab. Karawang saya tidak akan lepas profesi saya sebagai insan film/sinetron. Saya juga masih akan main karena justru dunia inilah yang mendekatkan saya dengan rakyat, tinggal disesuaikan saja waktunya, pilih episode yang tidak panjang, semua bisa diatur."

**

TAK hanya kalangan artis yang begitu semangat menjadi bakal caleg. Namun, mereka yang memang sebelumnya aktif di perpolitikan pun turut memanfaatkan momen keluarnya UU Pemilu tersebut. Misalnya saja Hj. Ella M. Girikomala yang lebih akrab dipanggil sebagai Hj. Ella Muhammad. Ia yang merupakan Ketua Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) Jawa Barat ini merupakan bakal calon legislatif (caleg) DPR RI Daerah Pemilihan Jabar 2 Kabupaten Bandung dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Menurutnya, kenapa dirinya mencalonkan, karena punya rasa tanggung jawab untuk masa depan bangsa, utamanya sebagai sosok seorang perempuan yang masih banyak diperlukan kontribusi untuk memajukan peranannya dalam perpolitikan. "Selain itu, keinginan berkiprah juga karena panggilan hati nurani (internal) dan juga timbul dari eksternal dengan adanya dukungan dari berbagai pihak termasuk dukungan suami dan anak-anak sehingga saya memberanikan diri," katanya.

Keaktifannya di partai dan pencalonan sebagai wakil rakyat, menurut Ella guna memberikan motivasi dan memacu semangat bagi kaum perempuan lainnya. "Tapi tentunya, faktor penentunya harus timbul dari perempuan itu sendiri," tambahnya. Banyak perempuan yang memiliki kemampuan namun tidak punya kemauan. Untuk itu, menurutnya kemampuan harus ditopang oleh kemauan, begitupun sebaliknya.

"Perempuan pun harus siap mental dalam dunia politik, apalagi dunia politik itu dianggap dunia kotor dan keras," ujar Ella. Tetapi, ia menilai politik itu kotor, tergantung individu yang menjalankannya. "Jadi, kita harus bisa menyikapinya dan harus menyatakan bahwa politik itu tidak kotor dan keras," tegasnya.

Pengertian politik itu keras, menurutnya karena dalam politik banyak terjadi saling jegal. Untuk itu, ia berharap ada persaingan yang sehat, cantik, dan luwes.

"Namun, persaingan semacam itu tidak terlalu dirisaukan karena kita mengacu kepada UU Pemilu tentang kuota 30% bagi perempuan. Tetapi, tentu ini tergantung kebijakan partai. Kalau kebijakan partai tidak konsisten dengan UU tersebut, artinya laki-laki itu masih arogan."

Ella menyarankan sikap superioritas kaum Adam yang masih menonjol, jangan membuat kaum hawa merasa rendah diri dan kurang percaya diri. "Tantang mereka untuk bergelut di dunia politik. Mungkin bagi laki-laki tidak terlalu berat, namun bagi kaum perempuan keikutsertaan dalam dunia politik merupakan hal yang berat sebab selain aktif di luar kita pun harus mengurus rumah tangga, melayani suami, dan mengasuh anak," ujarnya memberi semangat.

Yang penting, katanya, ada komitmen dengan suami bahwa tetap rumah tangga itu menjadi tanggung jawab bersama. Selain itu, harus pandai mengelola waktu agar bisa mengatur waktu bila keluar rumah. Senada dengan Ella, Dra. Ny. Atik Lapian Adwinata, bakal calon legislatif DPRD Provinsi Jabar Daerah Pemilihan Jabar 11 dari Partai Golkar, keinginan untuk terjun ke dunia politik, keinginan menjadi anggota legislatif terdorong oleh niat untuk membela kepentingan rakyat dan mengangkat nasib rakyat.

"Khusus untuk perempuan, guna mengangkat harkat martabat wanita, diperlukan decision maker dari kalangan wanita pula. Banyak permasalahan yang harus diperjuangkan, baik masalah pelecehan seksual maupun masalah perburuhan. Meski sudah ada peraturannya, kebijakannya tidak sesuai dengan kepentingan wanita. Untuk itu, pembuat kebijakan harus dilibatkan dari kalangan perempuan."

"Meski kita juga tidak terlalu me­nuntut, terpenting calon anggota legislatif dari perempuan yang punya kompetensi harus diperhatikan dan diprioritaskan menjadi calon jadi anggota legislatif," ungkapnya.

Keikutsertaan kaum perempuan dalam pencalonan anggota legislatif bagi Dra. A. Fauziah Rusyad, caleg DPR RI dari Partai Bulan Bintang yang rencananya di daerah pemilihan Jabar 1 Kota Bandung dan Kota Cimahi ini, demi turut menyukseskan partai Islam dalam rangka memenangan pemilu. "Bila partai Islam menang, banyak wa­kil di legislatif sehingga apa yang menjadi visi misi partai bisa terwujud," ujarnya.

Keinginan menjadi anggota dewan pun terdorong oleh banyaknya pemilih dari kalangan perempuan sehingga ia bisa mengajak mereka untuk memilih wakil dari perempuan, khususnya yang berasal dari partai Islam.

Fauziah menyangsikan, apakah dengan kuota 30% target akan tercapai karena ada beberapa faktor pe­nentu, terutama potensi dan dukungan dari suami. Kalau potensi tidak didukung suami, kuota itu tidak bisa terpenuhi.

Fauziah mengakui meski ada kuota 30%, kalangan perempuan masih banyak yang enggan berpolitik. "Padahal, di antara mereka banyak yang berpotensi, tetapi mereka takut tidak bisa membina rumah tangga dengan baik atau takut keluarga terabaikan yang mengakibatkan hancurnya rumah tangga."

Ia sepakat dengan Ella, bagi seorang perempuan menjadi anggota legislatif bukan hal yang mudah ka­rena harus membagi waktu antara keluarga rumah dan di rumah tangga. Tetapi, kalau ada dukungan dari suami dan saling memotivasi maka tugas di rumah tangga menjadi ringan.

"Bila sudah menjadi anggota dewan, kita tidak hanya mengurus hak-hak perempuan, namun juga mengurus semua permasalahan. Karena kita wakil rakyat, sehingga kita harus memperjuangan aspirasi rakyat. Meski begitu, memang kita harus memprioritaskan permasalahan wanita, seperti memperjuangkan UU Antipornografi.

Persaingan di dalam partai tidak masalah karena sudah ada skoring dan verifikasi kepada calon legislatif, jadi yang dipilih calon yang memenuhi syarat dan kompeten. Di partai, kita justru harus saling bahu-membahu sehingga siapa pun yang jadi kita harus dukung," katanya.

Salah satu caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nurani, mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam kancah perpolitikan bukan berarti harus menanggalkan atribut keibuannya, atau melupakan tugas utama perempuan sebagai manajer rumah tangga.

Bila perlu, lanjutnya, dilakukan pengontrolan secara ketat terhadap rumah tangga setiap anggota dewan. "Bila perannya di luar rumah malah mengganggu dan bahkan merusak keluarga, pihak partai harus berani mencabut dan menggantikannya dengan aktivis perempuan lainnya," imbuh Nuarni.

Dalam PKS sendiri, menurut ibu 5 anak ini, ada mekanisme pemantauan terhadap caleg yang lolos dan duduk di legislatif. Bahkan diberikan konsultasi dan arahan-arahan langsung dari pengurus partai. Hal ini dilakukan agar tugas utama di rumah tidak terabaikan dengan perannya di legislatif.

Sementara itu, sarjana lulusan IPB ini menuturkan bahwa untuk itu jauh-jauh hari keluarga harus sudah dipersiapkan. Yang paling utama adalah menyiapkan suami, karena bagaimanapun sebagai "direktur" keluarga peran di luar rumah menjadi tugas suami, sedangkan istri yang lebih banyak mengurusi tugas intern setelah duduk di legislatif harus ditanganinya juga.

Nah, bagaimana kiat Nurani menyiapkan suami? "Selain mengomunikasikan setiap persoalan yang ada, libatkan suami sejak dini dalam proses pencalonan. Kemudian, pembahasan tentang perawatan anak lebih diintensifkan. Yang tak kalah pentingnya, tunjukkan pada suami bahwa perempuan bisa menjadi manajer yang baik di rumah tangga saat ini. Jadi, ketika berkiprah di luar rumah ia juga akan percaya tidak akan melupakan jati dirinya untuk mengurus rumah.

Selain suami, menurut istri Taufiqurrahman, dosen jurusan Biologi ITB ini, anak juga harus dipersiapkan. Setidaknya membangun kemandirrian sejak dini harus sudah dilakukan ketika akan terjun ke kancah perpolitikan. Jadi, anak tidak akan jadi batu sandungan ataupun memberatkan, bahkan kontribusinya akan sangat berarti bagi memajukan ibunya sendiri.

Sementara itu, Diah Nurwitasari, Dipl. Ing. Deputi Jaringan Lembaga Bidang Kewanitaan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jawa Barat menyatakan bahwa keterlibatannya dalam dunia politik begitu intens sejak reformasi ini. "Saya bergabung dengan PK Sejahtera sejak pertama kali PK didirikan karena sebelum itu, saya sudah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah bersama teman-teman, yang kemudian menjadi kader PK, kemudian PK Sejahtera. Sejak bergabung, saya berusaha untuk selalu terlibat dalam setiap aktivitas partai, yang notabene adalah aktivitas dakwah," kata Diah.

"Politik bagi saya adalah salah satu sarana dakwah. Jadi, yang ingin saya capai dengan politik ini adalah memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Dengan visi mewujudkan negara dan bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera, yang diridai Allah SWT., berharap dapat memberikan sumbangsih pada negara ini," ujarnya pula.

**

KETIKA perempuan beraksi memperjuangkan nasib umat, logikanya perempuan harus memiliki dasar argumen kuat yang membuat perempuan melakukan aksi. Penguasaan dan pemahaman materi yang komprehensif atas sebuah isu dapat memperkuat motivasi aksi, lebih dari sekadar ikut arus.

"Kenyataan, umumnya para perempuan tak memiliki stamina kuat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam penguatan wacana sospol. Mereka cenderung untuk mengandalkan orang lain dan menikmati hasil jadinya saja di akhir sesi lalu mengucapkan kata sepakat atas kebijakan forum atau pimpinan. Jika tidak diantisipasi, pelan namun pasti, perempuan telah menciptakan budaya paternalistik yang dapat membunuh potensi daya kritis," kata Diah Nurwitasari.

Namun demikian, dalam iklim kehidupan di Indonesia saat ini, ia melihat bahwa peluang bagi seorang perempuan untuk terjun dalam bidang politk praktis cukup besar. Kuota 30% perempuan misalnya, merupakan sebuah dorongan awal keterlibatan perempuan dalam politik praktis. Namun, tantangannya adalah terutama kemampuan perempuan itu sendiri dalam mengelola prioritas-prioritas dalam kehidupannya, baik dalam peran domestiknya maupun publik.

by
sahabat PMII KEBAL

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sabtu, 30 Agustus 2008 10:14

KOMENTAR FANS MARISSA HAQUE Kapanlagi.com - Artis papan atas Marissa Haque mengatakan bahwa dirinya gelisah dunia entertainment yang selalu menyorot artis dari sisi popularitas saja. Sudah saatnya artis yang memang berlatar akademis tidak hanya disorot keartisannya. Marissa menunjuk Baim, mantan vokalis Ada Band dan Artika Sari Devi yang yang keduanya lulusan sarjana S-2 hukum.

"Selalu saja kami disorot dari sisi artis. Saya jarang dimintai pendapat tentang hal lain di luar keartisan. Bagi publik, hal itu juga membuat image artis tidak cerdas. Saya ingin jadi akademisi negarawati sejati," kata Marissa Haque, saat berbincang dengan KapanLagi.com di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jumat (29/8).


Wanita kelahiran Balikpapan 15 Oktober 1962 ini mengatakan bahwa dirinya 2-3 pekan lagi lulus sarjana S3 dari IPB jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Selain itu, Marissa juga sedang kuliah magister S2 di MM UGM jurusan Human Resources and Organization. Selain di UGM, Marissa juga mengambil jurusan S2 Magister Humaniora di Unika Atmajaya Jakarta dengan spesialisasi pengajaran untuk anak tuna rungu.


Pada kesempatan di Yogyakarta ini Marissa terpilih sebagai Duta batik Adiningrat dan batik Ningrat. Batik Adiningrat beralamat di Malioboro 73, dan batik Ningrat di Jalan Maliboro 23 ini merupakan gerai bisnis retail batik Pertiwi Group. Penandantanganan Marissa dipilih sebagai Duta batik Adiningrat dan Batik Ningrat MOU Marissa sebagai duta batik tersebut dimulai sejak 1 Agustus kemarin, dengan kurun waktu 1 tahun lamanya.


"Saya sangat bersyukur bisa menjadi duta batik, karena saya mencintai karya Indonesia. Apalagi melihat perkembangan batik yang berjalan begitu pesat. Rancangan dari batik pun beraneka ragam dan pakaiannya sudah menjadi suatu rancangan yang modern," ujar Marissa yang juga Ketua bidang Lembaga Keuangan Mikro Syariah Partai PPP ini.


Saat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta kemarin, Marissa juga panjang lebar bertutur tentang batik, lingkungan, hukum, dan persoalan politik.


Hilman Hakim, Manager Operasional Pertiwi Grup mengatakan, setahun penuh Pertiwi Grup akan memakai jasa Marissa sebagai media promosi produk batiknya. Marissa adalah publik figur cerdas. Ia juga tak terimbas isu dari perkawinannya dengan Ikang Fawzi. (kpl/tia)

Lihat Foto Marissa Haque di Yogyakarta